BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ontologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kata on dan
logos. On berarti ada dan logos berarti ilmu. Jadi, ontologi merupakan ilmu
tentang keberadaan suatu yang ada. Louiso Kattsof (1953 ) menyatakan bahwa
ontologi tersebut mencari ultimate reality (kenyataan yang tak
terhingga) dan menjelaskannya. Sebagai contoh tentang pemikiran thales yang
berpendapat bahwa airlah yang menjadi substansi tak terhingga (ultimate
subtance) yang mengeluarkan suatu benda. Sehingga benda hanya berasal dari
satu unsur saja yaitu air.
Ontologi matematika merupakan cabang filsafat yang berhubungan
dengan suatu yang ada termasuk hal-hal metafisik dalam pengetahuan matematika.
Dalam ontologi matematika banyak hal yang dipersoalkan misalkan cakupan dari
pernyataan matematika yang berkaitan dengan dunia nyata atau hanya dalam
pikiran manusia, sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa cakupan tersebut
merupakan suatu realitas dan eksistensi dari entitas-entitas matematika yang
juga menjadi bahan pemikiran filsafat. Salah satu pemikiran filsafat tersebut
mengenai ruang dan waktu dan alam semesta merupakan ruang tak terhingga yang
akan kita bahas pada makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
Pengertian matematika ruang dan waktu dan sebutkan macam-macam ruang
dikehidupan manusia?
2.
Mengapa
alam semesta dikatakan ruang terhingga?
C.
Tujuan Pembahasan
1.Untuk mengetahui pengertian matematika ruang dan waktu dan
mengetahui macam-macam ruang yang ada
dikehidupan manusia.
2.Untuk mengethui alasan alam semesta dikatakan sebagai ruang terhingga.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Matematika Ruang dan Waktu
Kata
ruang (space) dan waktu (time) mempunyai dua arti yang berbeda. Ruang yang
dimaksud adalah ruang dimana manusia hidup dan bergerak, seperti jarak antara
benda-benda dan tempat yang dilalui oleh benda tersebut saat bergerak.
Sedangkan yang dimaksud dengan waktu disini adalah waktu yang kita alami
sehari-hari dan waktu yang mengatur manusia dalam kehidupan.
Ruang
dan waktu yang konseptual adalah ruang dan waktu dalam matematika yang
diidealkan. Ruang dan waktu itu terbatas, karena ruang yang ada disekitar kita
hanyalah berdimensi dua dan tiga ,sedangkan yang berdimensi empat, lima,
enam,dan seterusnya hanya ada dalam pikiran manusia. Kemudian waktu juga
terbataskarena waktu dalam satu hari hanya 24 jam tidak lebih dan juga tidak
kurang. Immanuael kant mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah kategori dalam
akal pikiran manusia, atau tempat dimana akal mengetahui dan menyusun gambaran
dunia sampai waktu tertentu. Kebanyakan pemikir yang mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah suatu kindisi real
yang merupakan satuan yang terpsah.
Ruang
adalah luasan tiga dimensi dan tak terbatas,tempat semua objek dan peristiwa
berlangsung. Masalah eksistensi dan esensi ruang dan waktu telah menjadi
pembahsan sejak dahulu. Plato menbahasnya dalam buku yang berjudul Timaeus
dan aris toteles menulisnya dalam sebuah buku yang berjudul The Physic ruang berkaitan dengan tempat ,atau dalam
Geometri Ruang mempunyai pengertian sebagai kumpulan atau himpulan dari semua
titik yang berada pada waktu yang sama. Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Jeanne Bendick dan Marcia Levin (1965) menyatakan bahwa space is the set og
all points, atau ruang adalah kumpulan dari srmua titik-titik.
Kemudian
T.Alaric Millington dan William Millington (1966) dalam kamus matematikanya
mengemukakan pengertian ruang yaitu the space is a set of elements or points
which satisfy a set of postulates, atau ruang adalah suatu kumpulan
unsur-unsur atau titik-titik yang memenuhi suatu himpunan postulat. Sedangkan
waktu adalah kuantitas yang terpisah dari ruang yang berdiri sendiri. Waktu
juga merupakan sesuatu yang mengikat benda dalam ruang dengan panjang durasi
tertentu.
Ruang
dan waktu dapat dipandang menjdi koordinat yang kita pergunakan untuk
menentukan letak kejadian-kejadian yang kita ketahui. Salah satu konsekuensi
yang menarik mengenai pandangan tentang relativitas gerakan dimana seorang juga
mencakup ukuran tentang waktu. Akibatnya, seorang ilmuwan tidak tertarik lagi
berbicara tentang ruang dan waktu melainkan berbicara tentang kontinum ruang
dan waktu yang tunggal,yang didalamnya ruang dan waktu hanya merupakan
bagian-bagiannya.
Dalam
ruang terdapat titik yang merupakan objek imajinatif yang tidak menpunyai
panjang, lebar,tinggi, serta tidak mempunyai luas dan volume sebagaimana tiga
dimensi. Titik dapat dikatakan sebagai objek yang tidak berdimensi. Titik-titik
yng berkumpul memanjang, membentuk garis dan objek satu dimensi. Garis yang
menyapu kesampng membentuk permukaan atau bidang, objek berdimensi dua.
Permukaan yang menyapu ke samping membentuk volume atau ruang tiga dimensi.
Gambaran
tradisional tidak hanya melukiskan ruang dan waktu sebgai hal yang tetap dan
definitif, tetapi juga sebagai sesuatu yang dialami tiap orang yang normal
dengan cara yang sama. Walaupun gerak terjadi dalam ruang dan waktu ataupun
tiada gerak yng terjadi disana. Gerak bisa terjadi karena ada objek benda dalam
ruang dan waktu. Ruang bersifat abstrak disegala arah dan semua unsur dari
satuan waktu mempunyai watak yang sama. Sedangkan waktu menunjukkan durasi dari
tiap detik atau bagian waktu sama dengan bagian-bagian lain.
Sampai
permulaan abad ke-20 gambaran tradisional tentang ruang dan waktu tidak pernah
dipersoalkan secara serius. Sebagai hasil dari penyelidikan ilmuwan pada akhir
abad ke-19 dan ke-20, telah terjadi perubahan besar dalam pemikiran manusia
tentang ruang dan waktu, gerak dan sebagainya. Dengan menyatakan kebenaran dari
penemuan Einstein pada tahun 1919, yaitu teori relatifitasnya yang diterima
diseluruh dunia.
Pada
zaman Yunani kuno bagian-bagian ruang dipelajari oleh ilmuwan secara mendalam
dalam bidang geometri dan ilmu ukur. Puncak perkembangannya dengan penemuan
yang dilakukan oleh euclides. Dalam uraian Euclides pengertian ruang adalah
seperti yang nampak dalam kehidupan sehari-hari dengan tiga dimensi beserta
bidang yang dua dimensi. Ruang yang demikian kini disebut dengan Euclidean
space ( ruang Euclides ).
Dalam
perkembangan selanjutnya ternyata ruang Euclides bukanlah satu-satunya ruang
dalam geometri. Masih ada berbagai ruang yang lainnya yang kini dinamakan ruang
non-Euclides . Timbul ruang ini bermula pada dalil kelima Euclides tentang
kesejajaran. Orang merasa curiga terhadap kebenaran dalil tersebut bahwa
melalui sebuah titik diluar sebuah garis hanya hanya dapat ditarik satu garis
lurus yag sejajar dengan garis yang pertama. Dalam hal ini terjadi dua
kemungkinan, yang pertama, tidak mungkin dibuat garis yang sejajar dengan garis
yang pertama. Kedua, melalui sebuah titik dapat dibuat lebih dari pada sebuah
garis yang sejajar dengan garis yang pertama.
Pada
abad ke -19 terjadilah penambahan terhadap pengertian ruang euclides. Seorang
ahli matematika G.F.Bernhard Riemann ( 1826-1866 ) membuktikan adanya ruang
eleptik yang tidak ada garis sejajarnya. Pada ruang ini setiap garis garis akan
bertemu dengan garis lainnya dan sebuah segitiga mempunyai sudut yang jumlahnya
lebih besar dari 180◦ dengan maksimum 270◦ (jumlah dari tiga segitiga
siku-siku). Seorang ahli matematika lain Nikolas Ivanovitch Lobatchewsky
(1793-1856) mengembangkan suatu ragam ruang lain yang disebut ruang hiperbolik.
Kedua bentuk ruang yang telah dikembangkan ini merupakan contoh tentang bentuk
ruang dalam geometri Euclides, dan masih banyak jenis ruang Euclides lainnya.
Pada
penyelidikan terakhir, ilmuwan dan filosofis menunjukkan bahwa ruang dan waktu
saling berkaitan, juga menyatakan bahwa ruang dan waktu pada dasrnya tidak bisa
dipisahkan dan tidak berlainan. Kadang-kadang waktu dinamakan dimensi keempat
dari ruang.
Setiap
ilmuwan membagi ruang dan waktu menjadi ruang dan waktu menjadi posisinya
bergantung pada sistem gerak atau pandangannya.walaupun ruang dan waktu saling
bergantung dan saling berkaitan, tentunya terdapat perbedaan yang penting
antara keduanya.
Ruang
mempunyai tiga dimensi yaitu panjang, lebar,dan tinggi, serta kita dapat pergi
keluar angkasa, sedangkan waktu hanya menunjukkan satu dimensi ,dari masa lalu
ke masa yang akan datang , dan nampaknya tidak ada titik terbalik.
B.
Alam Semesta Merupakan Ruang Terhingga
Ada argumen yang menyatakan bahwa alam semesta merupakan ruang
takterhingga, tetapi argumen lain menyatakan bahwa boleh jadi ia terhingga,
hanya saja memberikan ilusi ketakterhinggaan. Volume ruang yang dapat kita
amati dibatasi oleh umur alam semesta dan kecepatan cahaya..
Salah satu ilmu yang mempelajari mengenai alam semesta adalah
kosmologi.kosmos adalah kata yang digunakan dalam pemikiran metafisik yunani awal,
yang berarti keteraturan. Waktu adalah salah satu masalah paling mendasar dalam
filsafat dan kosmologi, karena seluruh eksistensi tidak lain adalah rangkaian
peristiwa dalam waktu. Semua orang merasakan waktu tetapi kebanyakan orang
tidak mempertanyakan karena dialami setiap hari dalam banyak hal dan begitu
lumrah. Namun,hal itu jauh lebih sulit untuk memahami hakikat filosofis waktu
dan karakteristiknya.
Salah satu yang menarik dibahas dalam kosmologi adalah persoalan
mengenai ruang, yang pada akhirnya juga mengarahkan manusia Pada pemahaman
mengenai ‘dimensi ruang yang lebih luas yaitu waktu’.dua persoalan tersebut
bagaimanapun tidak dapat diabaikan begitu saja dalam pembahasan kosmologi
karena kenyataan menunjukkan bahwa alam kehidupannya manusia selalu berada
didalam tempat dan waktu tertentu. Barker menunjukkan hubungan erat antara
manusia dan dunia tersebut sebagai kesatuan objektif dan kesatuan formal.
Objektif dalam arti bahwa manusia hanya menemui dirinya sendiri alam
korelasinya dengan alam ,sedangkan
formal dalam arti bahwa refleksi mengenai kebersamaan manusia dan dunia
adalah satu-satunya hal yang mungkin.
Alam semesta sebagai objek kosmologi bisa dipahami sebagai sebuah
ruang yang sangat luas bagi manusia yang didalamnya terdapat sedemikian banyak
ruang yang lebih spesifik ruang dalam definisi yang dikemukakan oleh bakker
merupakan keseluruhan dunia sebagai kebersamaan atau koleagilitas antara
pengkosmos-pengkosmos kuantitatif- kuantitatif, yang berelasi secara
dimensional intensif. ada beberapa hal pokok yang bisa dikembangkan lebih
lanjut dari gagasan barker tersebut. Ruang dalam sudut pandang barker, bisa
dikatakan identik dengan dunia . namun, dunia yang dimaksudkan disini tentu
saja adalah dunia yang tidak hanya terbatas pada pengertian dunia fisik saja ,
tetapi mencakup semua dunia sejauh yang dialami manusia. Dunia tidak cukup
dibatasi hanya sebagai dunia biotik ataupun dunia fisik saja, namun juga
mencakup dunia dengan dimensi yang lain , misalnya saja dunia non fisik (non
empiris), sejauh hal tersebut dialami oleh manusia sebagai subjek yang
mempertanyakan melalui kosmologi. Ruang juga dipahami berhubungan dalam
kebersamaan atau secra kolegial dengan pengkosmos atau penghuni ruang tersebut.
Hal ini mengisyaratkan bahwa ada semacam hubungan yang mengikat antara ruang
dan penghuninya, dan ikatannya tdak selalu berarti ikatan yang memaksa, namun
jstru merupakan ikatan yang melahirkan kebersmaan sehingga penghuni ruang
merasa enggan untuk meyebrang ke ruang lain. Ikatan keduanya adalah ikatan yang
sekaligus bersifat kualitatif dan kuantitatif, serta intensif secara dimensional. Kembali ke pendapat
barker, hubungan yang saling mengingat tersebut sekaligus mengisyaratkan adanya
objektif dan kesatuan formal. Kenyataan memang demikian yaitu bahwa refleksi
yang paling mungkin hanyalah refleksi manusia dengan dunia sebagai ruang yang
sangat besar. Ketika manusia memikirkan dirinya sendiri, hal itu juga berarti
memikirkan dunianya karena manusia adalah bagian dari dunia dan sekaligus
berada didalamnya, di dalam ruang dunia. Inilah beberapa kenyataan yang
membuktikan bahwa munculnya diskursus mengenai ruang dan waktu, adalah sesuatu
yang niscaya ketika manusia membicarakannya dalam perspektif kosmologi.
Dilihat dari sistematika besar filsafat, kosmologi atau sering
disebut dengan filsafat alam adalah salah satu bagian dari cabang filsafat
ontologi yang secara umum memilki kesamaan dalam hal keinginannya untuk mencari
norma dan stuktur mendasar bagi kesemestaan. Keterkaitan keduanya membawa implikasi
yang mendalam karena dengan demikian, pandangan kosmologi suatu masyarakat akan
sangat dipengaruhi oleh cara pandang masyarakat tersebut terhadap realitas
secara keseluruhan baik manusia, alam, maupun realitas adikodrati (misalnya
tuhan). Hal yang sama juga dapat dijumpai dalam kehidupan batak. Mereka memilki
kosmologi yang khas, meskipun dalam banyak hal menunjukkan identitasnya sebagai
bagian dari kosmologi indonesia yang dicirikan oleh barker dengan koordinasi,
komplementasi, dan harmoni. Sebagai pendahuluan bisa dikatakan bahwa, batak
memilki corak pemikiran indonesia tersebut , namun jelas tak bisa dipungkiri
bahwa batak memilki corak yang berbeda dalam hal-hal lain.
Menurut Relativitas, ruang adalah medium dinamis yang dapat
melengkung dengan salah satu dari tiga cara, tergantung distribusi materi dan
energi didalamnya. Karena kita tersimpan di ruang kita tak dapat melihat
pelenturan tersebut secara langsung melainkan merasakannya sebagai terikan
gravitasi dan distorsi geometris. Untuk menentukan mana dari ketiga geometri
tersebut yang dimilki oleh alam semesta kita , astronom mengukur densitas
materi dan energi dikosmos. Rupanya densitas tersebut terlalu sedikit untuk
memaksa ruang melengkung balik ke dirinya sendiri geometri spheris. Oleh
sebab itu, ruang pasti memilki geometri Euclidean yang familiar seperti bidang
datar atau geometri hiperbolik.
Pada bidang Euclidean, sudut-sudut sebuah segitiga berjumlah persis
180◦, pada permukaan spheris, sudutnya berjumlah lebih dari 180◦ ,dan pada
permukaan hiperbolik , berjumlah kurang dari 180◦. Geometri lokal menentukan
cara objek bergerak. Tapi itu tidak mendiskripsikan bagaimana masing-masing
volume diruang terhubung untuk memberikan bentuk global kepada alam semesta.
Satu persoalan terkait kesimpulan ini adalah bahwa alam semesta boleh jadi
spheris namun begitu besar sehingga bagian-bagian yang teramati tampak
berbentuk Euclidean, persis seperti petak kecil permukan bumi yang tampak flat.
Namun isu yang lebih luas adalah relativitas merupakan teori lokal murni. Ia
memprediksi kelengkungan setiap volume kecil ruang geometrinya berdasarkan
materi dan energi yang dikandugnya. Relativitas ataupun observasi kosmologis
standar tidak mengatakan apa-apa tentang bagaimana volume-volume itu saling
bercocokan untuk memberi bentuk keseluruhan kepada alam semesta.
Ketiga geometri kosmik yang masuk akal tadi konsisten dengan
berbagai topologi. Penetapan topologi memerlukan suatu pemahaman fisikal diluar
teori relativitas. Asumsi lumrahnya adalah bahwa alam semesta itu ,seperti
bidang datar terhubung sederhana (simply connected), artinya hanya ada
satu jalur langsung bagi cahaya untuk berjalan dari sumber kepengamat.
Alam semesta simply connected ataupun alam semesta
hiperbolik memang akan berluas tak terhingga. Tapi alam semesta mungkin justru
“multiply connected “ (terhubung berlipat ganda ),seperti torus dimana
akan ada banyak jalur yang berlainan. Seorang pengamat akan melihat berbagai
citra setiap galaksi berlainan diruang tak berujung pangkal,persis seperti pengunjung
ruangan cermin merasakan ilusi melihat kerumunan orang.
Banyak kosmolog menyangka alam semesta itu berluas terhingga.
Sebagian alasannya karena akal manusia lebih siap meliputi hal terhingga
daripada hal tak terhingga. Tapi ada pula dua garis argumen ilmiah yang
menyukai keterhinggaan. Yang pertama melibatkan eksperimen pikiran yang
dirancang oleh Isaac Newton dan ditinjau kembali oleh George Berkeley dan Ernest Mach. Newton
membayangkan dua ember yang terisi air setengah. Ember pertama dibiarkan diam,
dan permukaan airnya datar. Ember kedua diputar cepat, dan permukaan airnya
cekung. Terjadinya hal tersebut karena naifnya adalah gaya sentrifugal. Berkeley
dan Mach bahwa semua materi dialam semesta secara kolektif menjadi kerangka referensi. Ember pertama
adalah diam secara relatif terhadap
galaksi –galaksi jauh, sehingga permukaan airnya tetap datar. Ember kedua
berputar secara relatif terhadap galaksi-galaksi itu, sehingga permukaan airnya
cekung.
Seandainya tak ada galaksi jauh, takkan ada alasan untuk memilih
satu kerangka referensi dibanding
kerangka lainnya. Permukaan kedua ember akan tetap datar ,dan karenanya air tak
memerlukan gaya setripetal untuk membuatnya terus berputar .singkatnya ia tak
memilki kelembaman. Mach berkesimpulan bahwa jumlah kelembaman yang dialami
sebuah benda berbanding dengan jumlah total materi di alam semesta. Alam semesta
berluas tak terhingga akan menyebabkan kelembaman tak terhingga . tak ada yang
dapat bergerak . selain argumen Mach ,terdapat karya pendahuluan dalam
kosmologi quantum, yang berupaya mendeskripsikan bagaimana alam semesta muncul
secara spontan dari kehampaan. Beberapa teori demikian memprediksi bahwa alam
semesta bervolume rendah jah lebih mungkin daripada alam semesta bervolume
tinggi. Alam semesta berluas tak terhingga memilki probabilitas nol untuk
eksis. Secara longgar bisa dikatakan energinya tak terhingga, dan tak ada
fluktuasi quantum yang bisa menggerahkan energi sebanyak itu. Aristoteles
berargumen bahwa alam semesta adalah berluas terhingga dengan alasan bahwa
perbatasan diperlukan untuk menetapkan kerangka referensi absolute, kerangka
ini penting dalam pandangan keduniaannya. Tapi para pengkritiknya
bertanya-tanya apakah alam semesta ada tepi atau batasannya ? jika setiap tepi
memilki sisi lain. Lantas kenapa tidak menetapkan ulang alam semesta agar
mencakup dan memiliki sisi lain sebagai negasi dari batasan tersebut ?
Matematikawan jerman Georg F.B Riemann memecahkan teka-teki ini
dipertengahan avad ke-19. Untuk model kosmos,dia mengajukan hiperbola,
permukaan tiga dimensi sebuah bola empat dimensi, sebagaimana bola biasa
merupakan permukaan dua dimensi sebuah bola rtiga dimensi. Itu adalah contoh
ruang pertama yang berluas terhingga tapi tak memiliki persoalan perbatasan.
Dalam
Al Quran sebagai kitab suci umat islam memberikan sebuah gambaran dimensi baru
terhadap istilah ruang, sebuah dimensi yang sama sekali tidak diketahui
sebelumnya oleh pandangan dunia manapun. Al Quran memandang bahwa ruang dan
alam semesta tersebut merupakan realitas yang terus menerus berekspansi yakni
gagasan tentang alam semesta yang terus berkembang. Dengan demikian, pandangan
hidup dan pemikiran seorang muslim terus tumbuh dan berkembang berdasarkan
konsep dinamis tentang alam semesta . begitu pula halnya dengan ruang dalam
geometri akan terus mengalami perkembangan baik bentuk maupun ukurannya.
Al Quran juga memberikan sejumlah indikasi tentang sumber lain ilmu
pengetahuan manusia dengan merujuk pada waktu Tuhan dalam perbandingannya
dengan waktu manusia dalam penelitian sejarah dan menekankan bahwa manusia
hendaknya menuangkan dan mengambil hikmah dari eksperimen atau pengalaman
sebelumnya maupun pengalaman masa moderen. Berkaitan dengan waktu (relatif ) Al
Quran memberikan gambaran secara deskriptif bahwa setiap benda, makhluk atau
objek yang hidup dalam ruang tiga dimensi(alam semesta) memilki batasnya
masing-masing yang menunjukkan relativitasnya waktu yang dirasakan oleh
manusia.
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila Telah datang
waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat
(pula) memajukannya (QS. Al A’raf : 34) Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai
batas waktu kejayaan atau keruntuhan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kata ruang (space) dan waktu (time) mempunyai dua arti yang
berbeda. Ruang yang dimaksud adalah ruang dimana manusia hidup dan bergerak,
seperti jarak antara benda-benda dan tempat yang dilalui oleh benda tersebut
saat bergerak. Sedangkan yang dimaksud dengan waktu disini adalah waktu yang
kita alami sehari-hari dan waktu yang mengatur manusia dalam kehidupan.
Ruang dan waktu yang konseptual adalah ruang dan waktu dalam
matematika yang diidealkan. Ruang dan waktu itu terbatas, karena ruang yang ada
disekitar kita hanyalah berdimensi dua dan tiga ,sedangkan yang empat, lima, enam,dan seterusnya hanya ada
dalam pikiran manusia. Kemudian waktu juga terbatas karena waktu dalam satu
hari hanya 24 jam tidak lebih dan juga tidak kurang. Immanuael kant mengatakan
bahwa ruang dan waktu adalah kategori dalam akal pikiran manusia, atau tempat
dimana akal mengetahui dan menyusun gambaran dunia sampai waktu tertentu.
Kebanyakan pemikir yang mengatakan bahwa
ruang dan waktu adalah suatu kindisi real yang merupakan satuan yang
terpisah.
Ruang mempunyai tiga dimensi yaitu panjang, lebar,dan tinggi, serta
kita dapat pergi keluar angkasa, sedangkan waktu hanya menunjukkan satu dimensi
,dari masa lalu ke masa yang akan datang , dan nampaknya tidak ada titik
terbalik.
Salah
satu ilmu yang mempelajari mengenai alam semesta adalah kosmologi.kosmos adalah
kata yang digunakan dalam pemikiran metafisik yunani awal, yang berarti
keteraturan. Waktu adalah salah satu masalah paling mendasar dalam filsafat dan
kosmologi, karena sekuruh eksistensi tidak lain adalah rangkaian peristiwa
dalam waktu.
Al Quran juga memberikan sejumlah indikasi tentang sumber lain ilmu
pengetahuan manusia dengan merujuk pada waktu Tuhan dalam perbandingannya
dengan waktu manusia dalam penelitian sejarah dan menekankan bahwa manusia hendaknya
menuangkan dan mengambil hikmah dari eksperimen atau pengalaman sebelumnya
maupun pengalaman masa moderen. Berkaitan dengan waktu (relatif) Al Quran
memberikan gambaran secara deskriptif bahwa setiap benda, makhluk atau objek
yang hidup dalam ruang tiga dimensi(alam semesta) memilki batasnya
masing-masing yang menunjukkan relativitasnya waktu yang dirasakan oleh
manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
Haryono, Didi. Filsafat
Matematika. Bandung : Alfabeta, 2014.
Kaelan.
M.S. Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya.Yogyakarta. Penerbit
paradigma, 1998.
Suriasumantri, Yuyun. Filsafar Ilmu :Sebuah Pengantar Populer. Jakarta
Pustaka: Sinar Harapan, 2007.
No comments:
Post a Comment