Akuntasi Kas, Penempatan pada BI,
Kliring dan Pajak
A.
Akuntasi Kas
Kas adalah mata uang kertas dan logam baik dalam
valuta rupiah maupun valuta asing yang masih berlaku sebagi alat pembayaran
yang sah. Perubahan posisi saldo kas di bank dapat disebabkan
oleh beberapa hal berikut: Penggunaan untuk transaksi internal bank seperti
untuk dana kas kecil, pembayaran biaya-biaya operasional, biaya gaji dan
sebagainya. Penyetoran dan penarikan oleh nasabah,
Penyetoran
kepada Bank Indonesia atau penarikan dari rekening bank yang bersangkutan di
Bank Indonesia.
Kas merupakan asset keuangan yang diklasifikasikan
sebagai “pinajamn yang diberikan dan
piutang (loans and receivables)”, yang dicatat pada nilai nominal dan tidak
ada penurunan nilai. Perubahan posisi saldo kas di bank dapat disebabkan oleh
beberapa hal berikut:
1. Penyetoran dan penarikan tunai oleh nasabah.
2. Penyetoran
kepada Bank Indonesia atau penarikan dari rekening bank yang bersangkutan di Bank
Indonesia.
3. Penggunaan
untuk transaksi internak bank seperti untuk dana kas kecil, pembayaran
biaya-biaya operasional, biaya gaji, dan sebagainya.
Transaksi internal bank syariah dapat dibedakan
atas dua jenis, yaitu tanpa menggunakan kas kecil dan dengan menggunakan kas
kecil. Untuk transaksi tanpa menggunakan kas kecil, bank biasanya melakukan
pembayaran via rekening. Adapun transaksi dengan menggunakan kas kecil biasanya
dilakukan untuk transaksi yang nilai rupiahnya realtif kecil, antara lain untuk
pembayaran konsumsi, biaya transport, biaya langganan koran atau majalah, dan
biaya listrik atau air. Akuntansi kas kecil pada bank dapat menggunakan sistem
dana tetap (imprest fund system)
maupun sistem dana berfluktuatif (fluctuating
system).
Transaksi dana kas kecil dengan sistem dana tetap meliputi: Pembentukan
dana kas kecil, Pemakaian dana kas kecil, Pengisian dana kas kecil.
Dalam sistem ini, pada saat pembentukan dana kas kecil, bank akan
mendebit dana kas kecil dan selanjutnya pemakaian kas kecil tidak dijurnal,
tapi hanya diarsip sehingga saldo dana kas kecil akan tetap. Yang berubah
adalah komposisi kasnya, karena komposisi kasnya terdiri dari atas uang tunai
dan arsip bukti pemakaian bertambah. Pada saat pengisian kembali, bank akan
mendebit biaya-biaya yang telah dikeluarkan dan mengkredit rekening kasnya.
Adapun pada akuntansi kas kecil dengan sistem dana
berfluktuasi, pada saat pengisian kas kecil, bank akan mendebit dana kas kecil
dan mengkreditkan rekening kas. Pada saat pemakaian kas kecil akan didebit
biaya-boaya atau utang yang terjadi dan mengkredit dana kas kecil. Pada saat
pengisian kembali mendebit rekening dana kas kecil dan mengkredit rekening kas.
Contoh Transaksi Kas Kecil
|
1 Mei 20XA dibentuk dana kas kecil
3 Mei 20XA dibayar biaya konsumsi rapat
7 Mei 20XA dibayar biaya bahan bakar mobil kantor
10 Mei 20XA dibayar biaya asuransi cash in save
11 Mei 20XA dibayar biaya asuransi cash in transit
15 Mei 20XA dibayar biaya langganan koran
23 Mei 20XA dibayar biaya listrik bulan terakhir
26 Mei 20XA dibayar biaya air bulan terakhir
27 Mei 20XA dibayar biaya service kendaraan motor
31 Mei 20XA kas kecil diisi kembali
|
Rp 500.000
40.000
60.000
50.000
20.000
40.000
120.000
100.000
50.000
|
Jurnal
bila menggunakan sistem dana tetap (imprest
fund system) adalah sebagai berikut:
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
01/05/20XA
|
Db. Kas Kecil
|
500.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
500.000
|
|
31/05/20XA
|
Db. Bb Konsumsi Rapat
|
40.000
|
|
|
|
Db. Bb Bahan Bakar
|
60.000
|
|
|
|
Db. Bb Asuransi cash in save
|
50.000
|
|
|
|
Db. Bb Asuransi cash in transit
|
20.000
|
|
|
|
Db. Bb Koran
|
40.000
|
|
|
|
Db. Bb Listrik
|
120.000
|
|
|
|
Db. Bb Air
|
100.000
|
|
|
|
Db. Bb Service Kendaraan
|
50.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
480.000
|
|
31/05/20XA
|
Db. Kas Kecil
|
480.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
480.000
|
Jurnal
bila menggunakan sistem dana berfluktuatif (fluctuation
system) adalah sebagai berikut:
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
01/05/20XA
|
Db. Kas Kecil
|
500.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
500.000
|
|
03/05/20XA
|
Db. Bb Konsumsi Rapat
|
40.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
40.000
|
|
07/05.20XA
|
Db. Bb Bahan Bakar
|
60.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
60.000
|
|
10/05/20XA
|
Db. Bb Asuransi cash in save
|
50.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
50.000
|
|
11/05/20XA
|
Db. Bb Asuransi cash in transit
|
20.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
20.000
|
|
15/05/20XA
|
Db. Bb Koran
|
40.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
40.000
|
|
23/05/20XA
|
Db. Bb Listrik
|
120.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
120.000
|
|
26/05/20XA
|
Db. Bb Air
|
100.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
100.000
|
|
27/05/20XA
|
Db. Bb Service Kendaraan
|
50.000
|
|
|
|
Kr.
Kas Kecil
|
|
50.000
|
|
31/05/20XA
|
Db. Kas Kecil
|
480.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
480.000
|
1. Akuntansi Kas untuk Penyetoran dan Penarikan oleh Nasabah Melalui Teller
Variasi transaksi penyertaan dan penarikan oleh nasabah melalui teller
didasarkan pada lokasi.
a. Transaksi
Setoran Kas di Cabang Sendiri
Transaksi setoran cabang sendiri adalah transaksi
dimana seorang nasabah memasukan uang untuk rekening yang berasal dari kantor
cabang tempat uang itu dimasukkan.
Misalkan tanggal 2 Juli 20X9 Ibu Asminah nasabah
Bank Syariah Perbanas cabang Surabaya, melakukan setoran tunai di kantor cabang
Surabaya ke rekeningnya sebesar Rp 300.000,-
Jurnal
di kantor cabang Surabaya :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
02/07/20X9
|
Db. Kas
|
300.000
|
|
|
|
Kr.
Rek Nasabah - Asminah
|
|
300.000
|
b. Transaksi
Penarikan Kas di Cabang Sendiri
Transaksi penarikan di cabang sendiri adalah transaksi dimana seorang
nasabah menarik uang dari rekening yang berasal dari kantor cabang tempat uang
itu ditarik.
Misalkan pada tanggal 4 Juli 20X9 Ibu Asminah nasabah BSP cabang
Surabaya, melakukan penarikan tunai uangnya di kantor cabang Surabaya sebesar
Rp 100.000,-
Jurnal
di kantor cabang Surabaya :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
04/07/20X9
|
Db. Rek Nasabah - Asminah
|
100.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
100.000
|
c. Transaksi
Setoran Kas ke Cabang Lain
Transaksi setoran cabang lain adalah transaksi dimana seorang nasabah
memasukkan uang di suatu kantor cabang untuk rekening yang berasal dari kantor
cabang lain pada bank yang sama.
Contoh pada tanggal 7 Juli 20X9 Ibu Asminah melakukan setoran tunai di
kantor BSP cabang Surabaya ke rekening BSP atas nama Danti di Yogyakarta
sebesar Rp 150.000,-
Jurnal
di kantor cabang tempat penyetoran (Surabaya) :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
07/07/20X9
|
Db. Kas
|
150.000
|
|
|
|
Kr.
RAK Cab Yogyakarta
|
|
150.000
|
Jurnal
di kantor cabang pemilik rekening (Yogyakarta) :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
07/07/20X9
|
Db. RAK Cab Surabaya
|
150.000
|
|
|
|
Kr.
Rek Nasabah - Danti
|
|
150.000
|
d. Transaksi
Penarikan Kas di Cabang Lain
Transaksi penarikan di cabang lain adalah transaksi dimana seorang
nasabah menarik uangnya di suatu kantor cabang melalui kantor cabang lain pada
bank yang sama.
Contoh tanggal 10 Juli 20X9 Ibu Asminah nasabah BSP Surabaya melakukan
transaksi penarikan di BSP Malang sebesar Rp 50.000,-
Jurnal
di kantor cabang tempat transaksi penarikan (Malang) :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
10/07/20X9
|
Db. RAK Cab Surabaya
|
50.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
50.000
|
Jurnal
di kantor cabang pemilik rekening (Surabaya) :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
10/07/20X9
|
Db. Rek Nasabah - Asminah
|
50.000
|
|
|
|
Kr.
RAK Cab Malang
|
|
50.000
|
Akuntansi Kas Melalui Automatic Teller Machine (ATM)
Transaksi kas melalui ATM meliputi :
a. Pengisian Kas ATM
Transaksi pengisian kas ATM merupakan transaksi bank mengisi kas
terdapat dalam ATM.
Contoh tanggal 12 Juli 20X9 BSP cabang Surabaya melakukan pengisian
ATMNya sebesar Rp 200.000.000,-
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
12/07/20X9
|
Db. Kas ATM
|
200.000.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
200.000.000
|
b. Penarikan Kas oleh Nasabah Cabang Pemilik ATM
Transaksi penarikan oleh nasabah cabang pemilik kas ATM merupakan
transaksi saat nasabah menarik dananya di bank melalui ATM.
Misalnya tanggal 15 Juli 20X9, Bapak Herman nasabah BSP Cabang Surabaya
menarik dananya melalui ATM BSP Cab Surabaya sebesar Rp 1.000.000,-
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
15/07/20X9
|
Db. Rek Nasabah - Herman
|
1.000.000
|
|
|
|
Kr.
Kas ATM
|
|
1.000.000
|
c. Penarikan Kas Bukan oleh Nasabah Cabang Pemilik
ATM
Transaksi penarikan bukan oleh nasabah cabang pemilik kas ATM merupakan
transaksi saat adanya nasabah dari cabang lain yang menarik dananya di bank
melalui ATM.
Misalnya tanggal 15 Juli 20X9, Ibu Rianti nasabah BSP Cab Malang meanrik
dananya melalui ATM BSP Cab Surabaya sebesar Rp 500.000,-
Jurnal
di kantor cabang tempat transaksi peanrikan ATM (Surabaya) :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
15/07/20X9
|
Db. RAK Cab Malang
|
500.000
|
|
|
|
Kr.
Kas ATM
|
|
500.000
|
Jurnal
di kantor cabang asal rekening yang ditarik (Malang) :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
15/07/20X9
|
Db. Rek Nasabah - Rianti
|
500.000
|
|
|
|
Kr.
RAK Cab Surabaya
|
|
500.000
|
Kas ATM merupakan pos tersendiri untuk melakukan identifikasi transaksi.
Pengisian ATM dilakukan apabila stok kas pada mesin sudah melewati titik
minimal, jurnal pada ATM dilakukan otomatis oleh sistem.
Kesimpulan transaksi yang berkaitan dengan KAS Kas
Rupiah
1. Penerimaan Setoran
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
X/IX/20X9
|
Db. Kas Rupiah
|
xxx
|
|
|
|
Kr.
Rekening yang dituju
|
|
xxx
|
2. Penarikan
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
X/IX/20X9
|
Db. Rekening yang ditarik
|
xxx
|
|
|
|
Kr.
Kas Rupiah
|
|
xxx
|
B. Penempatan pada BI
dilakukan dalam bentuk Giro dan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.
Giro pada Bank Indonesia yaitu saldo rekening giro Bank di Bank
Indonesia, baik dalam Rupiah maupun mata uang asing; merupakan salah satu alat
likuid dan tidak dimasukan untuk menghasilkan pendapatan. Dengan adanya giro
Bank Indonesia, bank dapat membiayai transaksi antarcabang maupun antarbank
melalui penyelesaian kliring.
1. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) yaitu
surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
berjangka waktu pendek berdasarkan prinsip syariah; dan
2. Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah
(FASBIS) yaitu fasilitas simpanan dalam rupiah yang disediakan oleh Bank
Indonesia kepada Bank untuk menempatkan dananya di Bank Indonesia dalam rangka standing facilities berdasarkan prinsip
syariah.
Transaksi Penempatan pada Bank Indonesia
|
Tanggal 1 Juli 20XA, BSP Cab Surabaya menyetor
tunai untuk giro di Bank Indonesia sebesar Rp 1 Miliar.
Tanggal 10 Juli 20XA, BSP Cab Surabaya mengambil
dana di Bank Indonesia sebesar Rp 500 Juta.
|
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
01/07/20XA
|
Db. Giro pada BI
|
1.000.000.000
|
|
|
|
Kr.
Kas
|
|
1.000.000.000
|
|
10/07/20XA
|
Db. Kas
|
500.000.000
|
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
500.000.000
|
Bentuk lain penempatan dana bank syariah pada Bank Indonesia adalah
dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Syariah yang merupakan instrument
pengganti atas Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI). Baik SBI Syariah amupun
SWBI merupakan saran penitipan dana jangka pendek oleh bank syariah yang
mengalami kelebihan likuiditas.
SBI Syariah menggunakan skema jualah dengan kebijakan return saat ini
mengacu pada SBI konvensioanal. Perkembangan bank syariah akan tetap seiring
dengan perkembangan ekonomi riil masyarakat dan konsisten dengan prinsip the existence of underlying transaction
pada setiap keutnungan yang diperoleh.
Contoh Kasus Transaksi Penempatan pada SBI
Syariah/FASBIS
|
·
Tanggal 1 September
20X9 BSP menempatkan dana sebesar Rp 3.000.000.000,- di SBI Syariah dengan
masa penempatan 3 bulan.
·
Tanggal 5 September
20X9 BSP menempatkan dana sebesar Rp 500.000.000,- di FASBIS dengan masa
penempatan 1 bulan.
·
Tanggal 5 Oktober 20X9,
bank mencairkan FASBIS yang dimasukkan tanggal 5 September.
·
Tanggal 1 Desember
20X9, bank mencairkan SBI Syariah yang pernah dimasukan tanggal 1 September
20X9.
|
Jurnal
untuk transaksi tersebut antara lain :
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
01/09/20X9
|
Db. SBI Syariah
|
3.000.000.000
|
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
3.000.000.000
|
|
05/09/20X9
|
Db. FASBIS
|
500.000.000
|
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
500.000.000
|
|
05/10/20X9
|
Db. Giro pada BI
|
500.000.000
|
|
|
|
Kr.
FASBIS
|
|
500.000.000
|
|
01/12/20X9
|
Db. Giro pada BI
|
3.000.000.000
|
|
|
|
Kr.
FASBIS
|
|
3.000.000.000
|
C. Kliring
Kliring merupakang sarana atau cara perhitungan
utang-piutang dalam bentuk surata berharga atau surat dagang dari suatu bank
peserta yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia atau pihak lain yang ditunjuk.
Dalam kegiatan kliring, digunakan warkat, dokumen, dan formulir kliring. Warkat
adalah alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan atas beban atau untuk
rekening nasabah atau bank melalui kliring. Dokumen kliring adalah dokumen yang
berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan kliring ditempat
penyelenggara. Formulir kliring adalah adalah formulir yang digunakan untuk
proses perhitungan kliring meliputi neraca kliring penyerahan dan pengembalian
yang disediakan oleh penyelenggara kliring, neraca kliring penyerahan, dan
pengembalian yang disediakan peserta kliring dan bliyet giro saldo kliring yang
disediakan oleh peserta.
Contoh
Kasus Transaksi Kliring
|
o
Tanggal 5 Mei 20XA, BSP
menerima tagihan dari Bank Mandiri Syariah sebesar Rp 200.000.000,- untuk
beban Bapak Hendra.
o
Tanggal 6 Mei 20XA, BSP
menyerahkan warkat kliring ke Bank Indonesia dan pada tanggal itu juga
kliring dinyatakan berhasil sebesar Rp 300.000.000,- untuk keuntungan
rekening giro Bapak Novan.
|
Jurnal
atas transaksi kliring tersebut yaitu
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
05/05/20XA
|
Db. Giro Hendra
|
200.000.000
|
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
200.000.000
|
|
06/05/20XA
|
Db. Giro pada BI
|
300.000.000
|
|
|
|
Kr.
Giro Novan
|
|
300.000.000
|
Kesimpulan jurnal yang berkaitan dengan penempatan
pada Bank Indonesia menurut PAPSI 2013:
1)
Pada saat penempatan
o
Giro pada Bank Indonesia
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Giro pada BI
|
xxx
|
|
|
Kr.
Kas/Kliring
|
|
xxx
|
o
Sertifikat Bank Indonesia
Syariah
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. SBIS
|
xxx
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
xxx
|
o
Fasilitas Simpanan Bank
Indonesia Syariah
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. FASBIS
|
xxx
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
xxx
|
2)
Pada saat pengakuan bonus
atau imbalan
o
Bonus atas FASBIS yang
diakui pada saat jatuh tempo
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Giro pada BI
|
xxx
|
|
|
Kr.
Pend dari penempatan pada BI – Pend operasi utama lainnya
|
|
xxx
|
o
Imbalan atas SBIS yang
diakui secara akrual
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Pend imbalan pada SBIS yang akan diterima
|
xxx
|
|
|
Kr.
Pend operasi utama lainnya
|
|
xxx
|
|
(Pada saat pengakuan pendapatan imbalan)
|
||
|
Db. Giro pada BI
|
xxx
|
|
|
Kr. Pend imbalan pada SBIS yang akan diterima
|
|
xxx
|
|
Pada saat menerima pembayaran imbalan
|
||
3)
Pada saat pengakuan beban
denda untuk masuk ke kewajiban pada BI
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Beban Operasional
|
xxx
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
xxx
|
4)
Pada saat penarikan
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Kas/Kliring
|
xxx
|
|
|
Kr.
Giro pada BI
|
|
xxx
|
5)
Pada saat jatuh tempo
o
Sertifikat Bank Indonesia
Syariah
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Giro pada BI
|
xxx
|
|
|
Kr.
SBIS
|
|
xxx
|
o
Fasilitas Simpanan Bank
Indonesia Syariah
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Giro pada BI
|
xxx
|
|
|
Kr.
FASBIS
|
|
xxx
|
6)
Pada saat mendapat
fasilitas pendanaan (kewajiban pada Bank Indonesia)
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
Db. Giro pada BI
|
xxx
|
|
|
Kr.
Liabilitas kepada BI
|
|
xxx
|
D. Pajak
1. Konsep Akuntansi Pajak
Aktivitas
bank syariah yang mengakibatkan bertambahnya pendapatan seseorang merupakan
objek pajak yang harus dibayarkan kepada negara. Beberapa jenis objek pajak
yang terkait dengan aktivitas bank syariah beserta tarif pajak yang dikenakan.
1.
Penerimaan bonus giro
wadiah oleh nasabah giro wadiah dikenakan pajak PPh Pasal 4 (2) giro sebesar
20% dari bonus yang diterima nasabah.
2.
Penerimaan bagi hasil
oleh nasabah giro mudharabah, tabungan mudharabah, dan deposito mudharabah
dikenakan pjak PPh Pasal 4 (2). Ketiganya dikenakan pajak sebesar 20% dari bagi
hasil atau bonus yang diterima.
3.
Penghasilan yang diterima
pegawai bank syariah dikenakan PPh 21 perorangan dikenakan pajak 10%
4.
Penghasilan bank syariah
yang kena pajak dikenakan PPh 21 Badan
5.
Dividen yang dibayar bank
syariah kepada pemegang shama dikenakan PPh Pasal 4 (2) dividien.
Pajak
yang dipungut oleh bank disimpan terlebih dahulu dalam rekening Titipan Kas
Negara dengan sub rekening sesuai dengan jenis pajak yang dipungut.
Contoh Kasus Transaksi Pajak
|
Ø Tanggal 30 Oktober 20XA, dibayar bonus giro wadiah pada rekening Fatih
Rizki Bakri, nasabah giro wadiah BSP sebesar Rp 100.000,- BSP memotong pajak
20% PPh Pasal 4 (2) Giro.
Ø Tanggal 30 Oktober 20XA, dibayar bagi hasil yang sudah diumumkan, tapi
belum dibayar langsung dipotong ke (1) rekening Reznia Amalia nasabah
tabungan mudharabah sebesar Rp 60.000,- (2) rekening tabungan mudharabah Gina
Rosnalia, nasabah deposito mudharabah sebesar Rp 200.000,-
Ø Tanggal 1 November 20XA, dibayar gaji Fatih pegawai BSP sebesar Rp
3.000.000,- dipotong pajak sebesar 10%. Gaji langsung masuk rekening tabungan
mudharabah Fatih.
Ø Tanggal 1 November 20XA, dipotong PPh 21 Badan masa sebesar Rp
15.000.000,-
Ø Tanggal 1 November 20XA, dibayar dividen kepada Rahmadi Wijaya, salah
seorang pemegang saham sebesar Rp 20.000.000,- dan dipotong PPh Pasal 4 (2)
dividen. Dividen dibayar via tabungan mudharabah Rahmadi.
Ø Tanggal 5 November 20XA, disetor semua pajak yang telah dipotong BSP
ke rekening pemerintah di Bank Indonesia sebesar Rp 256.640.000,-
|
Jurnal yang berkaitan dengan transaksi pajak
tersebut yaitu
|
Tanggal
|
Rekening
|
Debit (Rp)
|
Kredit (Rp)
|
|
30/10
|
Db. Bb Bonus Wiro Wadiah
|
100.000
|
|
|
|
Kr.
Giro Wadiah (an Fatih)
|
|
80.000
|
|
|
Kr. Titipan Kas Negara – PPh Pasal 4 (2) Giro
|
|
20.000
|
|
30/10
|
Db. Hak pihak ketiga atas bagi hasil
|
60.000
|
|
|
|
Kr.
Tab Mudharabah (an Reznia)
|
|
60.000
|
|
|
Db. Tab Mudharabah (an Reznia)
|
12.000
|
|
|
|
Kr. Titipan kas negara – PPh Pasal 4 (2) Tabungan
|
|
12.000
|
|
01/11
|
Db. Beban Gaji
|
3.000.000
|
|
|
|
Kr.
Tab Mudharabah (an Fatih)
|
|
2.700.000
|
|
|
Kr.
Titipan kas negara PPh 21
|
|
300.000
|
|
01/11
|
Db. Beban Pajak
|
15.000.000
|
|
|
|
Kr.
Titipan kas negara PPh 21 Badan
|
|
15.000.000
|
|
01/11
|
Db. Dividen
|
20.000.000
|
|
|
|
Kr.
Tab Mudharabah (an Rahmadi)
|
|
16.000.000
|
|
|
Kr. Titipan kas negara PPh Pasal 4 (2) Dividen
|
|
4.000.000
|
|
05/11
|
Db. Rupa-rupa titipan kas negara
|
256.640.000
|
|
|
|
Kr. Bank Indonesia
|
|
256.640.000
|
ANALISIS SWOT
|
STRENGTH
|
WEAKNESS
|
|
Ø
Penempatan pada Bank
Indonesia memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap efisiensi yang
diperoleh Bank Umum Konvensional dan juga Bank Umum Syariah.
Ø
Perlakuan pajak syariah
merupakan penerapan aturan perpajakan atas transaksi yang bersifat khusus,
sehingga pemerintahan menerapkan aturan khusus perpajakan dalam dunia
perbankan syariah karena pajak sifatnya memaksa sedangkan dharibah sifatnya tidak memaksa.
Ø
Tidak ada perlakuan
tarif khusus dalam pengenaan pajak penghasilan atas bidang usaha berbasis
syariah, peraturan dibuat hanya untuk memberikan kejelasan dan perlakuan yang
sama.
Ø
SBIS dapat diagunkan
kepada Bank Indonesia.
Ø
Pada akuntansi kas,
sistem imprest fund jumlah dananya
di awal periode selalu sama sehingga memudahkan untuk menentukan jumlah dana
per bagian atau unit. Sebagai alat kontrol oleh atasan dalam penggunaan dana.
Ø
Sistem fluctuation fund pada akuntansi kas
apabila mengalami kekurangan dana ditengah periode dapat meminta tambahan.
Saldo dapat diketahui setiap saat dan mudah dilakukan kontrol kas.
|
Ø
Penempatan pada Bank
Indonesia tidak dapat memprediks ROA (Return
on Assets) yang diperoleh perbankan syariah.
Ø
FASBIS tidak dapat
diperdagangkan, tidak dapat diagunkan dan tidak dapat dicairkan sebelum jatuh
tempo.
Ø
SBIS tidak dapat
diperdagangkan di pasar sekunder.
Ø
SBSI hanya dapat
dimiliki BUS dan UUS yang telah memuhi persyaratan Financing to Deposit Ratio tertentu.
Ø
Pada akuntansi kas,
kecenderungan terjadinya pencurian lebih besar.
Ø
Sistem imprest fund dalam akuntansi kas, kas
tidak dapat digunakan dengan mudah diketahui karena saldo baru dapat dilihat
di akhir periode. Bila terjadi kekurangan dan akan menimbulkan sedikit
masalah karena tidak ada penambahan kas di tengah periode.
Ø
Penerapan sistem fluctuation fund tidak mudah
mengetahui pengeluaran per rekening setiap periode dan manakah pengeluaran
terbanyak yang digunakan untuk apa saja.
|
|
OPPORTUNITY
|
THREAT
|
|
Ø
Kesulitan dalam
pelaksanaan bagi kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah tertentu, dan
pada saat ini pemerintah telah dan sedang mengkaji perpajakan untuk perbankan
syariah sehingga perbankan syariah tetap tidak melanggar peraturan negara
karena adanya pajak yang telah diputuskan secara bersama yang tentunya
berbeda dengan perpajakan bank konvesional.
Ø
Sertifikat Bank
Indonesia Syariah hadir sebagai instrumen kebijakan alternatif dalam
pengendalian moneter dan menggunakan akad ju’alah diperbolehkan karena
memiliki dasar hukum yang jelas, sehingga SBIS efektif dan mendatangkan manfaat
dalam pengendalian moneter.
Ø
Sebagai alternatif
terhadap acuan pada SBI konvensional, beberapa pakar ekonomi Islam di
Indonesia cenderung mengusulkankebijakan return yang mengacu pada rata- rata
return seluruh bank syariah yang ada di Indonesia. Dengan demikian,
perkembangan bank syariah akan tetap seiring dengan perkembangan ekonomi riil
masyarakat dan konsisten dengan prinsip the
existence of underlying transaction pada setiap keuntungan yang
diperoleh.
|
Ø
Perlakuan pajak yang
berbeda antara bank konvensional dan syariah dapat menyebabkan perlakuan
perpajakan menjadi tidak netral bagi para pihak yang terlibat.
Ø
Apabila dilihat dari
perkembangan sektor riil dan sektor keuangan SBIS belum dapat membawa
perkembangan dalam ekonomi islam.
|